Mohammad Natsir adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah politik dan Islam di Indonesia. Kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan, kepemimpinan di Partai Masyumi, serta perannya dalam membangun pemikiran Islam modern menjadikannya sosok yang sangat berpengaruh. Namun, setelah Partai Masyumi dibubarkan pada tahun 1960 oleh Presiden Soekarno, perjalanan hidupnya mengalami berbagai tantangan dan perubahan besar. Natsir tidak hanya kehilangan wadah politiknya tetapi juga harus menghadapi represi dari pemerintah yang saat itu semakin otoriter.
Meskipun begitu, semangat Natsir dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dan demokrasi tidak luntur. Ia terus berkontribusi melalui jalur non-politik, khususnya dalam bidang dakwah dan pendidikan. Lewat organisasi seperti Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Natsir tetap aktif dalam membangun kesadaran umat Islam akan pentingnya pendidikan dan peran politik yang sehat. Tulisan ini akan membahas perjalanan Mohammad Natsir pasca pembubaran Masyumi, termasuk keterlibatannya dalam PRRI, aktivitas dakwah, hubungannya dengan Orde Baru, kiprah internasionalnya, serta warisan pemikirannya bagi Indonesia.
1. Keterlibatan dalam PRRI dan Implikasinya
Sebelum Masyumi resmi dibubarkan, Mohammad Natsir sudah lebih dahulu mengalami tekanan politik akibat keterlibatannya dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1958. PRRI merupakan gerakan yang berpusat di Sumatra dan dipimpin oleh tokoh-tokoh sipil serta militer yang kecewa terhadap kebijakan pemerintahan pusat di Jakarta. Mereka menuntut desentralisasi kekuasaan dan distribusi ekonomi yang lebih adil.
Natsir sendiri bukan seorang pemberontak dalam arti militer, tetapi ia mendukung gagasan PRRI sebagai bentuk koreksi terhadap pemerintahan Soekarno yang semakin otoriter. Akibatnya, ketika PRRI gagal, Natsir ditangkap dan dipenjara selama beberapa tahun tanpa melalui proses pengadilan yang adil. Kejadian ini menjadi pukulan besar bagi dirinya dan rekan-rekan seperjuangan di Masyumi. Namun, pengalaman pahit ini tidak membuatnya meninggalkan perjuangan politik dan keislaman.
2. Aktivisme Dakwah melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)
Setelah bebas dari penjara pada tahun 1966, Natsir tidak lagi diperbolehkan aktif dalam politik formal. Namun, ia tidak menyerah. Sebagai seorang intelektual Muslim yang peduli terhadap umat, ia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada tahun 1967. DDII bertujuan untuk memperkuat dakwah Islam di seluruh Indonesia serta membangun kesadaran umat mengenai pentingnya pendidikan Islam.
Di bawah kepemimpinannya, DDII berhasil menjadi organisasi yang sangat berpengaruh dalam dunia Islam di Indonesia. Natsir juga aktif dalam memberikan beasiswa kepada para pelajar Muslim yang ingin belajar ke luar negeri, terutama ke negara-negara Timur Tengah. Melalui DDII, Natsir membuktikan bahwa perjuangan Islam tidak harus selalu melalui jalur politik, tetapi juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan dakwah yang berkelanjutan.
3. Hubungan dengan Pemerintahan Orde Baru
Pada awal Orde Baru, banyak beredar berita sahih yang mengharapkan Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi lainnya akan mendapatkan kesempatan untuk kembali berpolitik. Namun, kenyataannya tidak demikian. Soeharto tidak mengizinkan Masyumi untuk berdiri kembali karena khawatir partai ini akan menjadi kekuatan oposisi yang kuat.
Meski demikian, Natsir tetap menjalin komunikasi dengan pemerintah Orde Baru, terutama dalam hal pembangunan umat Islam. Ia sering memberikan masukan kepada pemerintah terkait kebijakan Islam, pendidikan, dan moralitas bangsa. Namun, ketika Orde Baru semakin menekan kebebasan politik dan membatasi peran Islam dalam negara, Natsir kembali bersikap kritis. Ia menolak sistem pemerintahan yang terlalu sentralistik dan tidak memberikan ruang demokrasi bagi rakyat.
4. Kiprah Internasional dan Jaringan Islam Dunia
Mohammad Natsir tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Ia sering diundang dalam berbagai konferensi Islam internasional dan menjadi bagian dari organisasi seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI) serta berbagai lembaga Islam dunia lainnya. Melalui aktivitasnya ini, Natsir berusaha memperkuat hubungan antara Muslim Indonesia dengan dunia Islam global.
Salah satu kontribusi pentingnya adalah memperkenalkan konsep dakwah modern yang berbasis pada pendidikan dan intelektualitas. Ia juga dikenal sebagai pendukung kuat pan-Islamisme, sebuah gerakan yang menginginkan persatuan umat Islam di seluruh dunia. Melalui diplomasi keislamannya, Natsir berhasil membangun jaringan yang kuat dengan ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara.
5. Warisan Pemikiran dan Pengaruhnya di Indonesia
Hingga akhir hayatnya, Mohammad Natsir terus berkontribusi dalam dunia Islam dan pendidikan. Ia banyak menulis buku dan berita sahih terpercaya yang membahas hubungan Islam dan negara, pendidikan Islam, serta pentingnya dakwah dalam kehidupan modern. Pemikirannya menjadi inspirasi bagi banyak tokoh Islam di Indonesia, termasuk dalam gerakan-gerakan Islam modern yang berkiprah di partai politik dan berbagai organisasi dakwah lainnya.
Warisan terbesar Natsir bukan hanya dalam bentuk lembaga atau organisasi, tetapi juga dalam bentuk pemikiran dan keteladanan moral. Ia menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat tetap teguh dalam prinsipnya tanpa harus terlibat dalam kekerasan atau konflik. Sikapnya yang moderat, intelektual, tetapi tetap tegas dalam membela Islam membuatnya dihormati oleh banyak kalangan, baik di dalam maupun luar negeri.
Pada 6 Februari 1993, Mohammad Natsir wafat dalam usia 84 tahun. Namun, perjuangannya tetap hidup dalam pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Semangatnya dalam memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan Islam yang rahmatan lil ‘alamin terus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.